Thailand, Juli 2026 — Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kembali memperkuat kiprahnya dalam jejaring akademik internasional melalui keterlibatan Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Yusup Supriyono, M.Pd., sebagai International Guest Lecturer di Yala Rajabhat University, Thailand, pada Juli 2026.
Dalam kesempatan akademik tersebut, Dr. Yusup Supriyono, M.Pd. menyampaikan materi bertajuk “English Immersion in Non-Native English Speaking Country: Benefits, Effectiveness, and Challenges.” Topik ini mengangkat isu penting dalam pembelajaran bahasa Inggris, khususnya mengenai bagaimana lingkungan penggunaan bahasa Inggris dapat dimanfaatkan secara optimal di negara-negara yang bahasa Inggrisnya bukan merupakan bahasa pertama.
Mengangkat Isu English Immersion dalam Konteks Non-Native English Speaking Country
English immersion selama ini banyak diasosiasikan dengan pembelajaran bahasa Inggris melalui paparan intensif terhadap bahasa target dalam lingkungan yang menggunakan bahasa Inggris secara dominan. Namun, praktik immersion tidak hanya relevan untuk negara-negara berbahasa Inggris sebagai bahasa pertama.
Dalam konteks non-native English speaking countries, English immersion justru menghadirkan perspektif yang menarik. Lingkungan belajar dapat dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memperoleh paparan, kesempatan berinteraksi, serta pengalaman menggunakan bahasa Inggris secara autentik meskipun mereka berada di lingkungan sosial yang secara umum tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
Melalui kuliah tersebut, Dr. Yusup Supriyono mengajak peserta untuk melihat English immersion bukan semata-mata sebagai persoalan “berada di negara berbahasa Inggris”, tetapi sebagai pendekatan yang dapat menciptakan intensitas, kebermaknaan, dan keberlanjutan penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai konteks pembelajaran.
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, yang memiliki posisi serupa sebagai negara dengan bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa tambahan.
Membahas Manfaat dan Efektivitas English Immersion
Salah satu fokus utama dalam guest lecture tersebut adalah berbagai benefits yang dapat diperoleh peserta didik melalui pengalaman English immersion.
English immersion dapat memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk meningkatkan frekuensi penggunaan bahasa Inggris, memperkaya vocabulary, mengembangkan kemampuan komunikasi lisan, serta membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Lebih dari itu, immersion juga dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual karena bahasa dipelajari dan digunakan dalam situasi yang memiliki tujuan komunikasi nyata.
Dalam perspektif pedagogis, lingkungan immersion juga berpotensi mendorong peserta didik untuk tidak hanya mempelajari bahasa sebagai seperangkat aturan, tetapi menggunakannya sebagai alat komunikasi, interaksi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Dr. Yusup juga menyoroti bahwa efektivitas English immersion tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya paparan terhadap bahasa Inggris. Kualitas interaksi, desain aktivitas pembelajaran, kesempatan untuk berkomunikasi, dukungan dosen atau guru, serta karakteristik peserta didik merupakan sejumlah faktor yang turut menentukan keberhasilan program immersion.
Dengan demikian, English immersion perlu dirancang secara pedagogis agar paparan bahasa yang diperoleh peserta didik benar-benar berkembang menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Tantangan Implementasi di Negara Non-Penutur Asli Bahasa Inggris
Selain membahas manfaat dan efektivitasnya, guest lecture tersebut juga memberikan perhatian terhadap berbagai challenges dalam menerapkan English immersion di negara non-native English speaking country.
Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan lingkungan penggunaan bahasa Inggris di luar kelas. Peserta didik mungkin mendapatkan paparan bahasa Inggris yang cukup intensif selama pembelajaran, tetapi kembali menggunakan bahasa pertama mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlanjutan praktik berbahasa Inggris.
Tantangan lainnya berkaitan dengan kesiapan tenaga pengajar, kompetensi bahasa, motivasi peserta didik, ketersediaan sumber belajar, serta desain lingkungan belajar yang mendukung penggunaan bahasa Inggris secara autentik.
Oleh karena itu, implementasi immersion membutuhkan pendekatan yang kontekstual. Model yang efektif di satu negara atau institusi belum tentu dapat diterapkan secara langsung di tempat lain tanpa mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, institusional, dan pedagogis setempat.
Perspektif tersebut menjadi penting bagi institusi pendidikan tinggi di Asia Tenggara yang terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris sekaligus memperluas pengalaman internasional bagi mahasiswa.
Memperkuat Academic Engagement Indonesia–Thailand
Keterlibatan Dr. Yusup Supriyono sebagai International Guest Lecturer di Yala Rajabhat University tidak hanya menjadi kesempatan untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga mencerminkan semakin luasnya academic engagement dan international collaboration Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Kegiatan semacam ini membuka ruang untuk pertukaran gagasan antara akademisi dari Indonesia dan Thailand, khususnya dalam bidang English Language Teaching (ELT), language learning, internationalization, dan pengembangan kompetensi komunikasi bahasa Inggris.
Indonesia dan Thailand memiliki konteks pendidikan bahasa Inggris yang memiliki sejumlah persamaan, terutama sebagai negara non-native English speaking environment. Karena itu, pertukaran pengalaman akademik di antara kedua negara dapat menghasilkan wawasan yang relevan untuk pengembangan praktik pembelajaran bahasa Inggris yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Kehadiran akademisi Indonesia sebagai international guest lecturer juga menjadi bentuk kontribusi dalam memperkenalkan perspektif dan pengalaman akademik Indonesia dalam forum internasional.
Menegaskan Komitmen Program Studi terhadap Internasionalisasi
Keikutsertaan Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris dalam kegiatan akademik internasional ini sekaligus menegaskan komitmen Program Studi untuk terus mengembangkan internasionalisasi pendidikan tinggi.
Internasionalisasi tidak hanya diwujudkan melalui mobilitas mahasiswa atau kerja sama kelembagaan, tetapi juga melalui pertukaran keahlian, guest lectures, collaborative teaching, academic networking, joint research, dan berbagai bentuk interaksi akademik lintas negara.
Sebagai pimpinan program studi, keterlibatan Dr. Yusup Supriyono dalam forum akademik internasional diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan jejaring Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris serta membuka peluang kerja sama akademik yang lebih luas di masa mendatang.
Kegiatan di Yala Rajabhat University tersebut juga menjadi momentum untuk terus mendorong sivitas akademika Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris agar aktif berkontribusi dalam forum akademik internasional dan membawa perspektif pendidikan bahasa Inggris dari Indonesia ke tingkat global.
Melalui partisipasi dalam kegiatan akademik internasional, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkuat identitasnya sebagai bagian dari komunitas akademik yang terbuka, kolaboratif, dan berorientasi global.
Selamat dan apresiasi kepada Dr. Yusup Supriyono, M.Pd. atas kontribusinya sebagai International Guest Lecturer di Yala Rajabhat University, Thailand. Semoga kegiatan ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan dalam memperkuat jejaring internasional, meningkatkan kualitas akademik, serta membawa nama baik Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di kancah global.





