
Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap proses pembelajaran atau pendidikan dengan nilai kepuasan yang diukur pada skala dari 1 hingga 5. Diagram ini memberikan gambaran visual yang jelas tentang bagaimana mahasiswa menilai pengalaman pendidikan mereka, dan dapat menjadi alat yang berguna untuk evaluasi dan perbaikan dalam proses pembelajaran.

Diagram menunjukkan kepuasan mahasiswa terhadap layanan dosen wali, dengan tiga aspek yang dinilai: kompetensi akademik, kemudahan pembimbingan, dan aksesibilitas untuk solusi. Setiap batang mewakili mahasiswa, menampilkan variasi dalam penilaian, yang mencerminkan pengalaman berbeda dalam interaksi akademik dengan dosen wali mereka.

Diagram ini menunjukkan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap pembiayaan, sarana, dan prasarana. Setiap kategori, seperti lokasi, kemudahan pengurusan, dan akses hotspot, dinilai dengan skala hingga 4,0. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa merasa cukup puas dengan fasilitas yang tersedia, meskipun ada beberapa area yang bisa ditingkatkan.

Diagram ini menggambarkan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan praktikum yang diikuti oleh beberapa individu. Hasilnya menunjukkan variasi kepuasan, dengan beberapa peserta merasa sangat puas.

Diagram ini menunjukkan tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan administrasi, mencakup kecepatan layanan, kemudahan, keramahan staf, dan kesungguhan staf. Skala penilaian mendekati 4,0 menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya merasa puas, meskipun ada beberapa area yang membutuhkan peningkatan untuk meningkatkan pengalaman layanan administrasi.
Tampak pada data hasil survei kepuasan mahasiswa sekaitan sarana dan prasarana pembelajaran adalah sebesar 67,43 %. Hal ini berimplikasi pada proses tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh lembaga yang dapat berdampak pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Tindak lanjut yang dilakukan oleh Program Studi Pendiidkan Bahasa Inggris dan UPPS adalah melaui jumlah, jenis, dan kualitas, serta pemanfaatan prasarana dan sarana pendidikan yang dapat diakses dan dipergunakan oleh PS untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. UPPS melakukan pengadaan media pembelajaran berbasis Virtual Reality dan pelatihan pembelajaran berbasis Virtual Reality kepada dosen. Revitalisasi sarana dan prasarana yang tengah berlangsung membuat sejumlah fasilitas tersebut diharapkan dapat digunakan untuk mendukung program-program dan juga melakukan pengawasan agar revitalisasi sarana dan prasarana dapat direalisasikan dan mendukung proses penyelenggaraan pendidikan. Selain itu dengan adanya SK perubahan status dari universitas dengan pengelolaan satker ke badan layanan umum, nomor 185 tahun 2024 tentang penetapan Universitas Siliwangi dan sejumlah universitas lainnya, maka secara kelembagaan Universitas Siliwangi menerapkan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan sarana dan prasarana yang terselenggara di Universitas Siliwangi.
Perlu dicermati juga bahwa pelaksanaan kebijakan kepuasan mahasiswa terhadap kinerja mengajar dosen, layanan administrasi akademik, dan prasarana/sarana pembelajara telah memenuhi aspek validitas, dilaksanakan secara konsisten dan terdokumentasi, hasilnya dianalisis, divalidasi oleh GKM, ditindaklanjuti oleh pimpinan. Dalam hal peningkatan kesigapan pengisian survei yang berkelanjutan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris pun melibatkan dosen wali untuk diminta menginformasikan kewajiban pengisian survei pada saat perwalian atau di media komunikasi grup kelas walinya masing-masing (Whatsapp grup) untuk mengisi survei kepuasan. Selain itu, terjalinnya jejaring kerja sama baik ke sesama dosen, tenaga ahli, maupun praktisi pendidikan yang tergabung dalam asosiasi profesi di dalam negeri seperti (TEFLIN, APSPBI, IEEF, dll) maupun luar negeri agar berkenan bergabung dan berkolaborasi dalam kegiatan akademik yang diselenggarakan prodi Pendidikan Bahasa Inggris menjadi hal yang dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. UPPS pun memberikan kesempatan kepada program studi untuk menyesuaikan unsur penguat dalam kompetensi lulusan misalnya dengan adanya panduan microteaching sesuai dengan kekhasan pembelajaran masing-masing prodi. Pada akhirnya mahasiswa dapat diberikan kesempatan untuk menindaklanjuti hasil perbaikan kualitas pembelajaran dari implementasi reflective practice dengan melakukan praktek mengajar secara mandiri diluar jam perkuliahan yang didokumentasikan melalui video.
